MAUMERE,Buktipetunjuk.id —
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. Hingga Senin, 24 Agustus 2026, penanganan darurat dan pemulihan masih berlangsung di tujuh kabupaten terdampak di Pulau Flores.
Lembaga Manajemen Infaq melalui Laznas LMI mengerahkan tim kemanusiaan ke lokasi terdampak. “Respons kami fokus pada kebutuhan dasar warga. Tim memastikan bantuan menjangkau wilayah yang membutuhkan, mulai dari dapur umum, logistik, air bersih, layanan kesehatan, hingga evakuasi,” kata Humanitarian Program Laznas LMI, Susanto, Selasa 25 Agustus 2026.
Gempa berpusat di Kabupaten Nagekeo, sekitar Mbay. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 6.697 kali gempa susulan hingga 24 Agustus 2026 pukul 18.00 WITA.
Dampak Meluas ke 7 Kabupaten
Dampak gempa meluas ke Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Sikka, dan Manggarai Barat. Data sementara menyebut 58.360 rumah rusak dan 161.874 jiwa terdampak.
Fasilitas publik turut terdampak: 130 ruas jalan, 356 fasilitas kesehatan, 389 tempat ibadah, dan 502 sekolah dilaporkan rusak. Korban tercatat 1.505 orang luka-luka dan 91 orang meninggal dunia. Data masih terus diperbarui.
LMI Dirikan Empat Pos, Layani 2.229 Penerima Manfaat
LMI mendirikan satu pos utama di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambirampas, Manggarai Timur. Tiga pos aju disiapkan di Mbay Nagekeo, Nanga Kantor Barat Manggarai Barat, dan Wairtotang Sikka.
Hingga 24 Agustus, LMI mencatat pelayanan untuk 120 penerima manfaat di dapur umum, 130 PM di dapur air, 1.934 distribusi logistik, dan 45 layanan kesehatan. Total, 2.229 penerima manfaat telah dilayani. Tim juga melakukan pencarian, evakuasi, dan pendirian pos layanan.
“Tim menempatkan pos di wilayah strategis agar respons lebih cepat dan distribusi bantuan menjangkau masyarakat,” ujar Regional Manager LMI Bali Nusra sekaligus Koordinator Aksi, Achmad Ramadhani Prakoso.
Kebutuhan Dasar Masih Tinggi
Kebutuhan mendesak di lapangan meliputi alas tidur, terpal, air minum, dapur umum, baby kit, family kit, selimut, hygiene kit, genset, dan sembako.
“Selain makanan dan air, warga butuh perlengkapan dasar untuk bertahan di pengungsian. Respons kami diarahkan agar bantuan tidak sesaat, tapi menjawab kebutuhan selama tanggap darurat,” kata Susanto.
Sebanyak 13 relawan LMI dikerahkan dengan dukungan 4 motor operasional dan 1 mobil rescue pada H+7 pascagempa. Tim juga melakukan asesmen kebutuhan dan pemantauan, mengingat gempa susulan masih terjadi.
“Data kebutuhan terus bergerak, jadi bantuan menyesuaikan kondisi terbaru. Prinsipnya, warga tetap dapat kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat,” ujar Achmad.
LMI menyebut data dampak dan penerima manfaat masih dinamis seiring pendataan di lapangan. Penyisiran dilakukan di tujuh kabupaten terdampak.(SNT)









