Merangin,Buktipetunjuk.id –
Kualitas udara di Kabupaten Merangin, Jambi, memburuk dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan status udara di wilayah tersebut masuk kategori tidak sehat akibat kabut asap.
Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Merangin Herman Efendi meminta pemerintah daerah mengambil langkah cepat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
”Kondisi udara beberapa hari ini memang berbeda. BMKG sudah menyatakan masuk kategori tidak sehat. Saya mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Merangin untuk menggunakan masker bila beraktivitas di luar ruangan. Lindungi diri dan keluarga,” kata Herman, Selasa, 26 Agustus 2026.
Menurut Herman, penyebab utama memburuknya kualitas udara adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Jambi. Asap kiriman dari daerah tetangga turut memperparah kondisi.
Ia menyampaikan empat tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Merangin:
1. Pemantauan berkala. Pemerintah diminta memantau kualitas udara setiap hari dan membuka data tersebut kepada publik.
2. Rapat koordinasi. Pemkab didesak segera menggelar rapat untuk menyusun rencana penanganan agar kabut asap tidak semakin meluas.
3. Hentikan pembakaran lahan. Herman menegaskan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar menjadi akar persoalan. “Masyarakat harus sadar dampaknya. Kita tidak ingin peristiwa kabut asap parah seperti dulu terulang lagi,” ujarnya.
4. Pelaksanaan di tingkat desa. Seluruh kepala desa dan camat diminta turun langsung mengawasi wilayah masing-masing guna mencegah dan memadamkan api sejak dini.
Herman, yang akrab disapa Abong Fendi, mengatakan peristiwa kabut asap sebelumnya harus menjadi pelajaran.
“Udara bersih adalah hak kita semua. Mari kita jaga bersama, mulai dari diri sendiri: tidak membakar hutan maupun lahan, patuhi imbauan, dan lindungi kesehatan sesama warga Merangin,” katanya.
Kabut asap akibat karhutla menjadi masalah tahunan di Jambi. Dampaknya tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia.
Reporter: Rudianto









