Sulitnya Mencari Nafkah Bukan Sekadar Keluhan, Saatnya Kebijakan Berpihak pada Rakyat

- Penulis Berita

Jumat, 16 Oktober 2026 - 17:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Jamal
Pengurus KNPI Provinsi Lampung

Lampung, Buktipetunjuk.id –

Ada kegelisahan yang kini mengendap di banyak rumah tangga. Tentang sulitnya mencari nafkah. Tentang kebutuhan yang terus berjalan sementara penghasilan tak kunjung bertambah. Bagi sebagian orang, dua tahun terakhir bukan sekadar angka di kalender, melainkan rangkaian hari yang dijalani dengan menahan napas.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar: mengapa masyarakat harus bekerja semakin keras hanya untuk mempertahankan hidup yang sama?

Ini bukan keluhan kosong. Ini potret kegelisahan yang harus didengar. Sebab ketika kerja keras tak lagi sejalan dengan kesejahteraan, dampaknya meluas. Bukan hanya ke dapur keluarga, tapi ke lingkungan sosial, dunia usaha, dan masa depan anak muda.

Kerja Keras Belum Menjamin Kesejahteraan

Sebagai Pengurus KNPI Provinsi Lampung, saya melihat persoalan mencari nafkah hari ini tak bisa dipukul rata. Kondisi tiap orang berbeda. Ada karyawan, pedagang, pekerja harian, hingga pelaku usaha kecil. Tapi ada satu titik temu: kebutuhan hidup tak pernah libur.

Bagi pekerja, gaji bulanan langsung habis sebelum sempat dinikmati. Biaya makan, sekolah, listrik, cicilan, hingga keperluan tak terduga datang beriringan. Bagi pelaku UMKM, tantangannya lain. Modal harus diputar, pelanggan harus dicari, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

Di sinilah masalahnya. Ekonomi tak cukup dilihat dari besarnya pendapatan. Kita harus melihat seberapa besar beban yang ditanggung, seberapa stabil pekerjaan yang tersedia, dan apakah ada jalan nyata untuk naik kelas.

Kerja keras, disiplin, dan adaptasi memang penting. Tapi rakyat tak bisa terus dibebani tuntutan berjuang sendiri. Mereka butuh ekosistem: lapangan kerja layak, akses usaha, dan kebijakan yang memberi ruang untuk tumbuh.

Dua Tahun Bertahan, Bukan Dua Tahun Menyerah

Dua tahun terakhir mengajarkan banyak hal. Ada yang bertahan dengan menekan pengeluaran. Ada yang menambah pekerjaan sampingan. Ada yang banting setir membuka usaha baru. Semua punya cerita tentang pengorbanan yang tak selalu terlihat.

Ada orang tua yang menunda kebutuhan pribadi demi biaya sekolah anak. Ada kepala keluarga yang berangkat kerja dengan kepala penuh kalkulasi. Ada pedagang yang tetap buka lapak meski pembeli sepi, berharap hari ini cukup untuk menutup biaya besok.

Mereka tak selalu menuntut bantuan. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan. Pekerjaan yang layak. Usaha yang bisa bertahan. Penghasilan yang memberi sedikit ruang untuk bernapas.

Karena itu, kita perlu kepekaan sosial. Jangan mudah menghakimi mereka yang sedang sulit seolah semua salah kelola keuangan. Setiap keluarga punya latar belakang dan beban yang berbeda. Semangat untuk bangkit harus dijaga, tapi ruang untuk bangkit juga harus dibuka.

Penghasilan Adalah Harapan Keluarga

Mencari nafkah bukan sekadar soal uang. Di dalamnya ada tanggung jawab dan cinta. Seorang ayah ingin anaknya sekolah dengan baik. Seorang ibu ingin dapur tetap mengepul. Keluarga ingin hidup tanpa cemas memikirkan esok hari.

Tapi ketika penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan dasar, ruang untuk menabung, mengembangkan usaha, atau menghadapi keadaan darurat menjadi sempit. Keluarga menjadi rentan. Sakit, PHK, atau kerusakan kendaraan bisa langsung mengguncang stabilitas.

Maka kesejahteraan tak boleh berhenti di “sudah bekerja”. Pekerjaan harus memberi penghasilan layak, perlindungan memadai, dan jalan menuju masa depan. Rakyat tak ingin sekadar bertahan hidup. Mereka ingin hidup yang lebih baik.

Pemerintah Harus Mendengar Lebih Dalam

Sulitnya mencari nafkah dipengaruhi banyak faktor: lapangan kerja, harga kebutuhan pokok, kondisi UMKM, hingga akses terhadap peluang ekonomi. Karena itu, solusinya tak bisa tunggal.

Pemerintah perlu mengevaluasi: apakah program yang ada benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan? Keberhasilan tak cukup diukur dari jumlah kegiatan atau serapan anggaran. Ukurannya adalah manfaat nyata yang dirasakan rakyat.

Baca Juga:  OTT Ditjen Bea Cukai KPK Sita Uang Miliaran Rupiah dan 3 Kg Logam Mulia

Apakah pencari kerja mendapat pekerjaan sesuai keterampilan? Apakah UMKM mudah naik kelas? Apakah anak muda punya akses untuk mandiri secara ekonomi? Pertanyaan ini harus dijawab dengan data, dialog, dan keberanian memperbaiki yang kurang.

Di Lampung, sektor pertanian, perdagangan, jasa, pariwisata, hingga ekonomi kreatif punya potensi besar. Tapi potensi harus diterjemahkan menjadi akses. Investasi bermakna ketika membuka lapangan kerja, menguatkan usaha lokal, dan meningkatkan pendapatan warga.

Kritik bukan bentuk menafikan upaya pemerintah. Justru menjadi masukan agar kebijakan lebih tepat sasaran. Yang dibutuhkan adalah telinga yang mau mendengar dan kemauan untuk membenahi.

UMKM dan Pemuda Jangan Dibiarkan Sendiri

UMKM adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Warung, kuliner, jasa rumahan, dan usaha lokal menggerakkan roda ekonomi lingkungan. Tapi mereka butuh lebih dari seremoni. Mereka butuh pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan yang masuk akal, pemanfaatan digital, dan pasar yang lebih luas.

Masyarakat bisa ikut berperan. Membeli produk lokal, menggunakan jasa tetangga, dan mempromosikan usaha sekitar adalah langkah kecil yang berdampak besar. Tapi gerakan ini harus ditopang kualitas produk dan ekosistem yang mendukung.

Begitu pula pemuda. Energi, kreativitas, dan melek teknologi mereka tak otomatis jadi kesejahteraan tanpa akses. Pelatihan harus nyambung dengan dunia kerja. Program wirausaha harus disertai pendampingan dan akses pasar. KNPI Lampung siap menjadi ruang kolaborasi agar aspirasi pemuda bertemu dengan kebijakan yang konkret.

Pemuda jangan hanya jadi penonton pembangunan. Mereka harus diberi ruang untuk gagal, belajar, dan bangkit. Sebab ukuran keberhasilan organisasi kepemudaan bukan pada banyaknya acara, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan.

Saatnya Mengukur Pembangunan dari Kehidupan Nyata

Kita perlu kembali ke pertanyaan dasar: apakah orang yang bekerja sungguh-sungguh bisa hidup lebih layak? Apakah usaha kecil punya peluang tumbuh? Apakah anak muda bisa mendapat kerja sesuai kemampuan? Apakah keluarga bisa memenuhi kebutuhan tanpa cemas?

Jawaban atas pertanyaan itu harus menjadi tolok ukur pembangunan. Angka pertumbuhan penting. Infrastruktur penting. Tapi semua harus sejalan dengan kualitas pekerjaan, daya beli rakyat, dan perlindungan bagi yang rentan.

Memperbaiki keadaan butuh waktu dan kerja sama. Tapi rakyat berhak melihat arah yang jelas. Harapan tumbuh bukan dari kata-kata, melainkan dari kesempatan yang terbuka dan kebijakan yang terasa manfaatnya.

Rakyat Ingin Hidup Layak

Dua tahun terakhir menunjukkan bahwa mencari nafkah bagi banyak orang adalah perjuangan yang menguras tenaga dan pikiran. Di balik itu ada keluarga yang harus dinafkahi dan masa depan yang harus dijaga.

Kegelisahan ini bukan untuk saling menyalahkan. Tapi juga tak boleh diabaikan. Kita butuh evaluasi kebijakan yang terbuka, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, pemberdayaan pemuda, dan kolaborasi nyata. Sekaligus memperkuat gotong royong dan kepedulian sosial.

Rakyat tidak meminta hidup mewah. Mereka ingin hasil kerja keras cukup untuk keluarga. Ingin usaha yang dirintis punya masa depan. Ingin anak bisa sekolah tanpa was-was. Ingin hidup lebih tenang tanpa terus bertanya tentang esok hari.

Rakyat tak hanya butuh imbauan untuk bekerja lebih keras. Rakyat butuh kesempatan yang adil, kebijakan yang berpihak, dan lingkungan ekonomi yang membuat kerja keras berbuah layak.

Sebab ukuran kemajuan bukan sekadar angka pertumbuhan. Ukuran paling dekat dengan rakyat adalah ketika seorang ayah bisa memenuhi kebutuhan keluarga, seorang ibu menjalani hari dengan tenang, seorang anak terus bersekolah, dan seorang pemuda menatap masa depan dengan yakin.

Itulah yang harus kita perjuangkan bersama. Bukan sekadar bertahan, tapi hidup yang layak, bermartabat, dan penuh harapan.

Penulis: Jamal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel buktipetunjuk.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dugaan Pungli Rp12 Juta di Disdikbud Merangin Mencuat, Kasi PAUD Bantah Terlibat
Selesaikan Bertahap, Komisi A Desak BPN Segera Terbitkan Sertifikat Tanah Ketajek
Disomasi Pascakebakaran Dapur MBG, Manajemen SPPG Simaninggir-Siabu Akhirnya Angkat Bicara
Tabung LPG Indoor Ancam Nyawa Relawan, Kepala SPPG Bukit Malintang Pilih “Bungkam”
Guru SD di Metro Laporkan Wali Murid ke Polisi: Diduga Dihina dan Diancam di Lingkungan Sekolah
KKG Sukaratu Digelar di SDN 2 Sukagalih, Matangkan Persiapan KKG Kabupaten Desember 2026
Penggunaan Gas “Melon” di SPPG Sibaruang Siabu Mencuat, Manajemen Sebut Force Majeure
Sertijab Kapolda Lampung, Danrem 043/Gatam: Sinergi TNI-Polri Kunci Keamanan
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:33 WIB

Dugaan Pungli Rp12 Juta di Disdikbud Merangin Mencuat, Kasi PAUD Bantah Terlibat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 22:12 WIB

Selesaikan Bertahap, Komisi A Desak BPN Segera Terbitkan Sertifikat Tanah Ketajek

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:52 WIB

Disomasi Pascakebakaran Dapur MBG, Manajemen SPPG Simaninggir-Siabu Akhirnya Angkat Bicara

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:48 WIB

Tabung LPG Indoor Ancam Nyawa Relawan, Kepala SPPG Bukit Malintang Pilih “Bungkam”

Jumat, 16 Oktober 2026 - 18:53 WIB

Guru SD di Metro Laporkan Wali Murid ke Polisi: Diduga Dihina dan Diancam di Lingkungan Sekolah

Berita Terbaru