MERANGIN, Buktipetunjuk.id –
Dugaan perundungan terhadap seorang siswa SMAN 2 Merangin memicu keresahan di kalangan wali murid. Mereka menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan Kepala Sekolah Jontra Voltra dan mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Jambi segera bertindak.
Kekhawatiran itu muncul karena orang tua siswa khawatir kasus serupa terulang. Para wali murid meminta sekolah dan Dinas Pendidikan menjamin keamanan serta kenyamanan siswa di lingkungan sekolah.
Seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kehilangan kepercayaan pada kepala sekolah. “Saya sudah tidak percaya lagi dengan kepala sekolah. Kami menilai kepemimpinannya gagal total. Harus ada tindakan nyata agar persoalan ini tidak menimpa anak-anak kami lagi,” ujarnya, Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurut dia, dugaan perundungan tidak bisa dianggap sepele. Ia menuntut evaluasi menyeluruh terhadap lingkungan sekolah dan proses pembelajaran di SMAN 2 Merangin.
Para wali murid juga mendesak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, M. Umar MY, S.E., M.M., turun tangan mengevaluasi pengelolaan SMAN 2 Merangin.
Bahkan sejumlah perwakilan wali murid telah mewacanakan aksi penyampaian aspirasi bila Dinas Pendidikan tak segera merespons. Aksi itu, kata mereka, untuk mendesak jaminan sekolah aman bagi seluruh siswa.
“Kalau tidak ada tindakan dalam waktu dekat, kami sepakat menyampaikan aspirasi langsung ke sekolah. Kami ingin jaminan kejadian ini tidak terulang,” kata sumber yang sama.
Hingga kini, pernyataan tersebut masih sebatas penilaian wali murid dan belum terbukti sebagai fakta. Pihak SMAN 2 Merangin maupun Dinas Pendidikan Provinsi Jambi perlu diberi ruang untuk klarifikasi secara berimbang.
Media ini telah berupaya mengonfirmasi kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi M. Umar MY terkait dugaan kasus dan tuntutan wali murid. Namun hingga berita ini tayang, belum ada jawaban resmi.
Publik kini menanti langkah konkret sekolah dan Dinas Pendidikan. Dugaan perundungan ini dinilai dapat menjadi momentum evaluasi sistem perlindungan siswa di SMAN 2 Merangin.
Para orang tua menegaskan satu hal: sekolah harus menjadi ruang aman untuk belajar, bukan tempat yang menimbulkan ketakutan.
Reporter: Rudianto









