Mendengarkan suara rakyat dan suara tuhan.

- Penulis Berita

Rabu, 13 Desember 2023 - 07:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buktipetunjuk.idPercaya bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, secara sederhana pemaknaannya bisa dipahami apa yang dikehendaki rakyat itu adalah perwujudan yang di ridhoi oleh Tuhan. Sebaliknya, jika suara Tuhan itu adalah suara rakyat, pemaknaannya dapat dimengerti sebagai ekspresi kecintaan Tuhan terhadap makhluk ciptaannya yang paling mulia dibanding dengan makhluk-Nya yang lain. Lalu mengapa rakyat dalam banyak masih selalu diposisikan sebagai obyek bukan sebagai subyek yang patut diutamakan sekaligus dimuliakan oleh berbagai pihak, utamanya bagi pemerintah yang harus dan patut menunaikan amanah rakyat ?

Setidaknya dalam pelaksanaan Pemilu (2024) di Indonesia, rakyat patut dan layak diposisikan sebagai subyek utama dari subyek lain yang selama ini telah dimanipulasi secara sistematis dan terstruktur serta massif, sehingga rakyat tidak pernah disadari sebagai subyek yang paling penting dalam proses pelaksanaan Pemilu yang menginginkan suatu perubahan. Setidaknya dalam bentuk pergantian kepemimpinan dan pejabat negara yang perlu disegarkan penampilan, pemikiran serta buah karyanya agar dapat lebih meningkatkan kesejahteraan dalam bentuk lahir dan batin.

Adapun kesejahteraan dalam bentuk lahir dan batin itu bukan hanya sebatas kecukupan material semata, tetapi juga keperluan dan kebutuhan yang bersifat non materi, seperti rasa keadilan, kenyamanan dan keamanan hingga sebagian yang harus tercermin dalam gairah hidup saat menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan yang sangat kompleks dan penuh tantang untuk memasuki masa depan yang lebih baik dan lebih beradab.

Pemilu itu sendiri adalah kesepakatan dalam membatasi periodisasi jabatan seorang pejabat publik dan sebagai bagian dari upaya untuk memilih pemimpin maupun wakil rakyat yang dianggap paling mumpuni untuk mengaksentuasikan cita-cita dan harapan rakyat. Karena itu, reaksi terhadap wacana untuk memperpanjang masa jabatan Presiden menjadi terkesan sebagai pengkhianatan terhadap kesepakatan bersama yang telah diatur oleh peraturan maupun oleh undangan-undang.

Karena hakikat dari dilaksanakannya Pemilu itu patut dipahami untuk melakukan pergantian kepemimpinan atau jabatan publik yang dilakukan melalui mekanisme pemilihan atas dasar suara rakyat. Artinya, kesepakatan untuk mendapat suasana yang segar dengan pilihan yang segar, sesungguhnya dimaksudkan untuk melakukan perubahan yang lebih dari kondisi dan situasi yang perlu ditingkatkan untuk masa depan, sehingga kualitas hidup dan kehidupan rakyat bisa semakin baik bukan semakin merosot seperti yang dirasakan pada akhir belakangan ini di Indonesia.

Baca Juga:  Kapolri mengecek kesiapan acara puncak hari Bhayangkara di GBK.

Adapun perubahan yang diinginkan oleh rakyat dari hasil Pemilu yang harus jujur dan adil serta menjunjung etika dan moral dengan akhlak yang mulia, tentu saja sangat diperlukan untuk melakukan perubahan dalam menciptakan suasana yang lebih kondusif di semua sektor kehidupan. Mulai dari ekonomi, politik, budaya dan agama harus dapat dinikmati lebih enak, nyaman dan aman. Karena berbagai hal buruk yang dianggap telah mengganggu atau merusak tata kehidupan warga masyarakat secara umum harus diperbaiki atau bahkan harus segera ditinggalkan untuk diganti juga dengan program yang baru yang bisa lebih banyak memberi manfaat bagi orang banyak. Sebab pada intinya, negeri ini tidak dapat dibangun sendiri apalagi hanya ingin dinikmati sendiri. Sebab negara Indonesia dibangun oleh segenap suku bangsa yang kemudian bersepakat bersatu menjadi satu bangsa Indonesia.

Karena itu upaya untuk menguasai asset bangsa yang diamanahkan rakyat untuk dikelola oleh negara, terkesan jadi sikap khianat, ketika diberikan penguasaan dan pengelolaannya hanya kepada segelintir orang seperti tiada batas.

Atas rasa keadilan, kenyamanan serta kejujuran yang ikhlas itu pula Pemilu 2024 patut diharap mampu melahirkan pemimpin yang amanah, konsisten dan tawadhu dalam mengedepankan suara rakyat serta kepentingan rakyat. Sebab hasrat untuk mendengar suara rakyat itu seyogyanya dapat dipahami dan juga disadari adalah upaya dari mendengar suara Tuhan.

Banten, 13 Desember 2023.
Penulis : Jacob Ereste.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel buktipetunjuk.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketua Komisi III DPR Desak Polda Sumut Transparan Usut Kematian Mantan Istri Polisi
Klarifikasi Pemberitaan Dugaan Afiliasi Dapur MBG di Tubaba, Tegaskan Patuhi UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik
DPP ABR Indonesia Klarifikasi Pencatutan Foto Ketua Umum dalam Pemberitaan Dugaan Kasus MBG di Tubaba
Membuka Mata tentang Wajib Militer: Dari Bambu Runcing hingga Kesiapsiagaan Bangsa
Jaksa Agung Lantik 5 Pejabat Tinggi Kejagung, Asep Nana Mulyana Resmi Jabat Wakil Jaksa Agung
Dewan Pers Mengecam Ucapan Hotman Paris Dianggap Merendahkan Profesi Wartawan
Kortastipidkor Polri Resmi Tetapkan Tersangka Korupsi dan TPPU Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah 
Polisi Sita Uang Senilai Rp 476 M dan Emas Batangan 74 Kg di Sentul Bogor
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:03 WIB

Ketua Komisi III DPR Desak Polda Sumut Transparan Usut Kematian Mantan Istri Polisi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 13:25 WIB

Klarifikasi Pemberitaan Dugaan Afiliasi Dapur MBG di Tubaba, Tegaskan Patuhi UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik

Selasa, 4 Agustus 2026 - 18:51 WIB

DPP ABR Indonesia Klarifikasi Pencatutan Foto Ketua Umum dalam Pemberitaan Dugaan Kasus MBG di Tubaba

Minggu, 2 Agustus 2026 - 13:51 WIB

Membuka Mata tentang Wajib Militer: Dari Bambu Runcing hingga Kesiapsiagaan Bangsa

Jumat, 24 Juli 2026 - 21:36 WIB

Jaksa Agung Lantik 5 Pejabat Tinggi Kejagung, Asep Nana Mulyana Resmi Jabat Wakil Jaksa Agung

Berita Terbaru