Opini Oleh : Samidi.
Buktipetunjuk.id –Eskalasi konflik antara lembaga legislatif parlemen/DPR dan eksekutif/pemerintah. Hal ini berisiko memperlemah legitimasi lembaga dan tentunya mempengaruhi kepercayaan publik.
Kerjasama yang baik antara Legislatif dan Eksekutif akan menghasilkan hasil kerja yang optimal, produktivitas meningkat, dan tujuan bersama membangun daerah tentu akan lebih mudah tercapai.
Sinergi Legislatif dan Eksekutif ini juga akan meringankan beban kerja, mempererat hubungan antar anggota dan tim, serta menumbuhkan komunikasi yang efektif dan saling mendukung.
Istilah adu domba, tindakan memecah belah, menghasut, dua pihak agar berselisih, sering kali menggunakan fitnah untuk merusak hubungan agar tidak harmonis.
Perbuatan adu domba ini dilarang keras, sering dikaitkan dengan istilah namimah (penyebar berita bohong), dan merupakan taktik pecah belah dari ego dan kekuasaan.
“Selain istilah Adu Domba ada juga Serigala Berbulu Domba Seseorang yang terlihat polos, baik, atau tidak berbahaya dari luar, namun sebenarnya licik dan berniat jahat dari dalam.
Politik Adu Domba (Devide et Impera) Strategi memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil agar lebih mudah dikuasai.
Mengadu Domba: Menjadikan dua pihak yang sebelumnya sepaham menjadi berselisih atau bertikai. Jangan termakan hasutan politik adu domba. Selisih paham, perbedaan pendapat, dan perdebatan adalah hal yang lumrah, bahkan krusial dalam berdemokrasi.
Demokrasi bukanlah tentang keseragaman, melainkan kemampuan mengelola perbedaan dengan damai. Perbedaan pandangan dari oposisi seharusnya dianggap sebagai teman berdemokrasi yang membantu meluruskan jalannya pemerintahan, bukan sebagai musuh.
Jadi jangan mudah percaya berita burung, itu hanya taktik Adu Domba untuk memecah persatuan dan kesatuan, perlu check and recheck jangan gampang terprovokasi isu yang belum diketahui kebenarannya. Menghindari hoaks, yang cenderung menimbulkan kesalahpahaman, dan dampak negatif dari informasi yang salah.(Red)














