CIAMIS,Buktipetunjuk.id –
Kami juga warga negara Indonesia, ingin diperhatikan.” Kalimat itu disampaikan Pak Oyon, 66 tahun, pedagang bubur ayam keliling di Desa Cihaurbeuti, Kecamatan Cihaurbeuti, Ciamis Jawa Barat.
Selama puluhan tahun, ia mendorong gerobak bersama istrinya, Ibu Mamah, demi menyambung hidup. Di usia senja, tenaga sudah tak sekuat dulu, tapi kebutuhan sehari-hari tak bisa ditunda.
Minim Bantuan, Andalkan Solidaritas Warga
Pak Oyon mengaku jarang tersentuh bantuan pemerintah. “Selama puluhan tahun ini, tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah. Dulu sekali, sekitar lima tahun yang lalu, pernah dapat beras dua karung, masing-masing 10 kilogram. Itu saja,” ujarnya, kepada Buktipetunjuk.id, Senin, 28 September 2026.
Baru belakangan ia menerima satu karung beras 10 kilogram. Bantuan itu bukan dari program resmi, melainkan hasil inisiatif kepala dusun/lurah. Salah satu keluarga penerima manfaat (KPM) yang seharusnya menerima tiga karung beras, secara sukarela menyisihkan satu karung untuk Pak Oyon lewat ketua RT.
Harapan Penerima Bantuan Tepat Sasaran
Meski bersyukur, Pak Oyon berharap pendataan penerima bantuan sosial lebih akurat. “Harapan saya sederhana saja. Ingin diperhatikan seperti warga yang lain. Kami juga warga negara Indonesia, kami juga punya hak untuk diperhatikan,” katanya.
Kisah Pak Oyon menyoroti potret lansia pekerja sektor informal yang masih luput dari jaring pengaman sosial. Di tengah keterbatasan fisik, ia dan istri memilih tetap mandiri. Baginya, bantuan bukan hanya soal beras atau uang, tapi bentuk kehadiran negara.
Media Buktipetunjuk.id akan menelusuri informasi dari Pak Oyon pedang bubur keliling terkait Bantuan Sosial. Kedepan Buktipetunjuk.id, akan menanyakan kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis soal status Pak Oyon dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Kasus ini menggarisbawahi urgensi pemutakhiran data dan transparansi penyaluran bansos agar tepat sasaran, terutama bagi warga lanjut usia yang rentan.
Pewarta: AS









