MERANGIN,Buktipetunjuk.id –
Lahan perkebunan kelapa sawit milik petani Koperasi Perkasa Nalo Tantan di Desa Mentawak, Kecamatan Nalo Tantan, Merangin, diduga dirusak aktivitas pertambangan. Alat berat dan mesin dompeng terpantau beroperasi hingga ke tepian Sungai Nalo Tantan, Senin , 28 September 2026.
Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Merangin Bripka Ahmad Fahmi meninjau langsung lokasi setelah menerima pengaduan petani. “Kami menerima laporan adanya aktivitas yang diduga merusak kebun milik koperasi,” kata Ahmad Fahmi di lokasi, Minggu, 27 September 2026.
Temuan di Lapangan
Dari hasil peninjauan, ditemukan alat berat yang tengah bekerja di area perkebunan. Di sekitarnya berserakan mesin dompeng, pipa-pipa, dan gundukan tanah hasil galian. Genangan air keruh tampak di sejumlah titik, disertai suara mesin yang masih beroperasi.
Menurut Ahmad Fahmi, sebelumnya sudah ada peringatan agar aktivitas dihentikan. Namun peringatan itu diabaikan.
Ahmad Fahmi menduga kuat aktivitas tersebut merupakan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Ia menyebut salah satu pihak yang terlibat bernama Tekun, yang memiliki sejumlah alat kerja dan satu unit alat berat di lokasi.
Tak jauh dari lokasi, ditemukan pula rakit PETI milik warga bernama Madi, asal Dusun Mudo. Rakit itu beroperasi membabat lahan di sekitar bantaran Sungai Nalo Tantan.
Laporan ke Polisi
Ahmad Fahmi kemudian mendampingi warga yang merasa dirugikan untuk melaporkan kejadian ini ke Polres Merangin, Minggu sore, sekitar pukul 17.00 WIB. Laporan tersebut telah diterima untuk ditindaklanjuti.
Ketua Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) Merangin H. Ampera turut mendampingi warga. “Saya ikut melihat langsung kondisi di lokasi dan mendampingi warga yang merasa tanah dan kebunnya menjadi korban aktivitas PETI ini,” ujar Ampera.
Warga mendesak aparat menindak tegas pelaku perusakan lahan dan aktivitas PETI ilegal. Mereka menilai lahan produktif milik petani tidak boleh dialihfungsikan menjadi lokasi tambang ilegal yang merusak lingkungan. “Kepastian hukum harus ditegakkan. Lahan rakyat harus dilindungi,” kata salah satu petani.
Reporter: Rudianto









