Tasikmalaya,Buktipetunjuk.id – Di sebuah pelosok kampung Selaawi, Desa Banyurasa, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, terdapat seorang lansia bernama Nenek Cicah yang hidup sebatang kara. Diusianya yang sudah menginjak 70 tahun, Nenek Cicah hanya bisa mengandalkan belas kasih dari saudara dan tetangga yang dengan tulus memberikan makanan serta kebutuhan pokok sehari-hari.
Nenek Cicah tinggal di rumah sederhana yang direnovasi oleh warga Kampung Selaawi secara gotong royong. Rumah yang dulunya tidak layak huni itu kini menjadi tempat berlindung yang lebih aman bagi Nenek Cicah. “Abi teugaduh Beas pisan, sadidinteun di pasihan ku wargi reung tatnggi kumargi teu gaduh murangkalih,” keluh Nenek Cicah, yang berarti “Saya tidak punya beras, sehari-hari dikasih sama keluarga dan tetangga karena saya tidak punya anak,” saat ditemui di rumahnya, Kamis, 30 Oktober 2025.
Ironisnya, di tengah berbagai program bantuan sosial yang digulirkan pemerintah, Nenek Cicah belum pernah menerima bantuan. Ia mengaku sudah berulang kali mencoba mengurus persyaratan, namun selalu menemui jalan buntu.
Kisah Nenek Cicah adalah satu dari sekian banyak potret buram kehidupan lansia di Kabupaten Tasikmalaya yang belum sepenuhnya tersentuh bantuan pemerintah. Padahal, lansia merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan dan membutuhkan uluran tangan.
Menurut Wahyu, seorang tetangga Nenek Cicah, lansia tersebut belum pernah menerima bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). “Dulu sekitar tahun 2020, Nenek Cicah pernah dapat BLT Dana Desa sebesar Rp300.000 per bulan selama satu tahun. Tapi setelah itu, sampai sekarang tahun 2025, belum dapat bantuan lagi,” ungkap Wahyu.
Ketua RT setempat juga membenarkan bahwa Nenek Cicah adalah warganya yang hidup sebatang kara dan tidak memiliki anak. “Untuk makan sehari-hari saja, beliau hanya bergantung pada saudara dan tetangga. Saya sudah berkomunikasi dengan pendamping PKH agar Nenek Cicah didata supaya bisa mendapatkan bantuan sosial,” jelas Bu RT.
Sementara itu, Ihsan, Kaur Kesejahteraan Desa Banyurasa, menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak terkait mengenai Nenek Cicah. “Saya mau ke BJB dulu, mau ambil uang buat yang kerja. Terkait Nenek Cicah, nanti saya koordinasikan dengan punduhnya,” singkat Ihsan.
Menanggapi hal ini, Yayat, Ketua Yayasan Peduli untuk Sesama Kabupaten Tasikmalaya, menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu lebih proaktif dalam mendata dan menyalurkan bantuan kepada para lansia yang membutuhkan. “Pemerintah harus jemput bola, jangan hanya menunggu laporan dari masyarakat. Lakukan pendataan yang akurat dan pastikan bantuan tepat sasaran,” tegasnya.
Yayat juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam membantu para lansia di lingkungan sekitar. “Kita sebagai tetangga atau sesama warga juga harus peduli. Jangan biarkan mereka hidup dalam kesusahan,” ujarnya.
Kisah Nenek Cicah ini menjadi tamparan bagi kita semua. Di tengah kemajuan dan kemakmuran yang kita nikmati, masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan. Sudah saatnya kita membuka mata dan hati, serta memberikan perhatian lebih kepada mereka yang membutuhkan. Pemerintah dan masyarakat harus bersinergi untuk memastikan bahwa tidak ada lagi lansia yang terlupakan di usia senjanya.
“Semoga kisah ini dapat mengetuk hati para pemangku kebijakan dan masyarakat untuk lebih peduli terhadap nasib para lansia yang membutuhkan bantuan. Uluran tangan kita dapat memberikan secercah harapan bagi mereka untuk menjalani hari tua dengan lebih layak,” harap Yayat. Bersambung
(Ajat)










