Jangan Salah Menilai Orang Lain.

Catatan: Risdiana Wiryatni.

Buktipetunjuk.idIntrospeksi yang sebenarnya adalah mengetahui kekuatan dan kelemahan, bukan hanya kelemahan. Jangan suka menempatkan seseorang pada posisinya, tapi tempatkanlah diri Anda terlebih dahulu pada posisi yang benar ”Sebuah kata bijak mengatakan, introspeksi diri bisa menjadi bahan perenungan sebelum menilai orang lain. Kita sering kali mengurusi hidup orang lain seperti mengomentari bahkan hingga menghakimi dengan ukuran diri sendiri. Kondisi tersebut membuat kita terlihat sombong dan memandang orang lain lebih rendah. Padahal, diri sendiri masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki.

Maka dari itu, kita perlu berkaca atau introspeksi sebelum menilai orang lain. Introspeksi atau refleksi diri berarti proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi.
Memberikan penilaian kepada orang lain itu lebih mudah daripada menilai diri sendiri. Segala hal dinilai baik secara fisik, penampilan, karakter, sikap, dan lain sebagainya. Bahkan dengan orang yang baru saja ketemu, sudah berani menilai orang tersebut. Padahal ia belum tahu sepenuhnya terkait sifat, karakter, dan kedalaman hatinya. Hal ini seakan bahwa peribahasa semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak adalah benar adanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang cenderung untuk menilai orang lain hanya melihat keburukannya, bukan dari kebaikannya. Kondisi ini menjadi hal yang dianggap biasa dan lumrah terjadi di masyarakat, yang dalam bahasa pergaulan disebut juga membuat gosip. Memang hal yang membuat orang semakin hangat dalam pembicaraan adalah jika membahas kesalahan orang lain daripada kebaikannya. Bahkan sebaik apapun orang lain, begitu orang tersebut membuat kesalahan, maka seolah kebaikan yang pernah dilakukan hilang dan tidak berbekas sedikitpun. Acap kali orang tertutup mata dan tutup telinga terhadap kebaikan orang lain setelah orang tersebut melakukan kesalahan walaupun kecil.

Menilai seseorang berdasarkan kaca mata si penilai sejujurnya tidaklah adil, karena apa yang dinilai belum tentu benar adanya. Orang bijaksana hendaknya memeriksa dengan teliti mana yang benar dan mana yang salah. Ia yang mengadili orang lain dengan tidak tergesa-gesa, bersikap adil dan tidak berat sebelah, yang senantiasa menjaga kebenaran, pantas disebut sebagai orang yang adil.

Intropeksi terhadap diri sendiri adalah cara terbaik agar tidak mudah menilai orang lain. Kalaupun harus menilai orang lain, jauh lebih elok jika menilai kebaikannya karena sesungguhnya tidaklah mudah untuk mengerti dan memahami dengan benar tentang sifat, karakter, dan watak seseorang.
Introspeksi adalah evaluasi diri sendiri. Ekstrospeksi adalah membandingkan tingkah laku sendiri dengan tingkah laku orang lain. Lebih baik introspeksi diri walaupun benar daripada merasa benar tapi tidak introspeksi.

Saya teringat akan sebuah cerita inspiratif, yang mengajak kita untuk merenung dan tidak mudah menilai dan menghakimi orang lain.
Suatu hari, sepasang suami istri pindah ke sebuah wilayah perumahan baru. Pada pagi berikutnya, ketika keduanya sedang menikmati sarapan pagi, sang istri, dari balik kaca jendela, melihat tetangga rumah sedang menjemur pakaian di halaman rumahnya.
Sang istri itu pun berkomentar di hadapan suaminya: “Lihat itu suamiku! Cucian tetangga kita tidak bersih. Apakah ibu itu tidak tahu cara mencuci pakaian dengan baik ya? Ataukah kemungkinan sabun cuci yang digunakan bukan sabun yang bagus, sehingga pakaian yang dicuci masih terlihat kotor?”

Sang suami memandang keluar dan tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam dan melanjutkan obrolan dengan tema yang lain. Hari-hari selanjutnya, setiap mereka sarapan pagi dan sang istri melihat tetangganya menjemur pakaian, maka sang istri selalu menyempatkan diri untuk memberi komentar miring seperti hari-hari sebelumnya.
Akan tetapi setelah berlalu hampir dua minggu, pada suatu hari sang istri dibuat terkejut. Karena ketika ia melihat keluar dari balik jendela, ia menemukan pemandangan yang tidak seperti biasanya. Cucian tetangganya kini terlihat bersih.

Segera ia pun berkata kepada suaminya: “Lihat suamiku! Ada perkembangan baik di halaman rumah tetangga kita. Rupanya ibu itu sudah tahu bagaimana cara mencuci pakaian dengan baik. Siapa ya kira-kira yang mengajari dia?”
Suami di hadapannya menjawab: “Tahukah kamu istriku? Hari ini, saya bangun pagi- pagi. Terpikir olehku untuk melaksanakan apa yang sudah menjadi rencanaku sejak hari-hari pertama kita pindah ke rumah ini”.
“Aku ambil ember, aku isi dengan air, aku campur dengan sabun pembersih kaca dan aku ambil kain lap, kemudian aku bersihkan semua kaca-kaca jendela rumah kita. Hasilnya, seperti yang kamu lihat, kaca jendala rumah kita sekarang menjadi bersih dan bening……”
Apa kira-kira pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita di atas?

Tahukah apa yang dialami oleh sang istri dalam cerita di atas adalah suatu yang sering kali terjadi juga pada diri kita?
Sang istri memandang cucian tetangga yang sedang dijemur dari jendela kaca rumahnya yang kotor sehingga jemuran itu pun terlihat kotor di matanya.
Bukankah kita juga sering menilai buruk kepada orang lain, padahal belum tentu kitanya sudah baik atau belum? Atau bisa jadi, penilaian buruk kita kepada orang lain sebenarnya berasal dari cara pandang kita yang buruk.
Oleh karena itu, akan lebih baik bagi kita, sebelum menilai orang lain, kita terlebih dahulu menelisik diri kita sendiri, sudah layakkah kita memberi penilaian? Dan apakah lensa yg kita gunakan sudah betul-betul bersih?.

Kenyataannya, tidak semua orang mau repot-repot melakukan itu. Kebanyakan dari kita dengan mudah menghakimi orang lain. JEMURAN TETANGGA KOTOR, itu saja. Padahal kotor itu, kalau saja kita mau lebih bijaksana, justru berasal dari kotornya kaca jendela rumah kita sendiri. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang sibuk menilai keburukan orang lain, lupa untuk memperbaiki diri sendiri. Amin

CEO-Owner Kinerja Group.

banner banner banner banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *